Historiografi Hadis Kontemporer

Daftar Isi [Tampilkan]
Oleh: Bagus Suganda
Pascasarjana Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta



Dalam sejarah perkembangan penulisannya atau historiografinya, hadis mengalami perubahan dan perkembangan dinamis dalam setiap masa sejarahanya. Jika kita lihat secara kronologinya, istilah historigrafi mulai muncul pada abad ke-15 Masehi. Hal ini sejalan dengan adanya peralihan masa dari abad pertengahan menuju abad modern. Akan tetapi jika diteliti lebih dalam dengan melihat pola penulisan dan sejarahnya, historiografi Islam dan hadis telah hadir jauh sebelum abad ke-15 Masehi.

Sejarah historiografi hadis terus mengalami perubahan baik dari masa mutaqaddimin, mu’akhirin dan mu’ashirin. Dalam artikel ini, penulis hanya akan berfokus dalam historiografi hadis di masa mu’ashirin atau kontemporer dengan melihat pemikiran dari satu tokoh, yaitu Musthafa Azami, yang merupakan tokoh masyhur dikalangan para ilmuwan hadis. Penulisan ini berangkat dari beberapa pembahasan. Pertama, mengetahui sejarah penulisan dan perkembangan hadis di masa kontemporer. Kedua, apa saja yang menjadi objek kajian dan ruang lingkup kajian hadis kontemporer. Ketiga, mengetahui kitab-kitab apa saja yang lahir dan yang menjadi corak dimasa ini.


Sejarah Penulisan Hadis dan Kodifikasinya

Musthafa Azami berpendapat bahwa proses periwayatan hadis telah dilakukan secara tertulis sejak masa sahabat sampai kepada masa pengumpulan hadis di pertengahan abad ketiga Hijriyah. Hal ini menjelaskan bahwa literatur hadis yang ada pada periode tersebut merupakan hasil periwayatan tertulis dari masa sahabat, yang membuktikan bahwa hadis terjamin keaslian dan kualitasnya tanpa adanya keraguan secara historis. Azami menyoroti bahwa penjagaan hadis tidak semata dilakukan melalui hafalan, melainkan juga melibatkan dimensi tulisan. Aktivitas menulis hadis menjadi wujud nyata dari komitmen untuk melestarikan warisan keilmuan Islam.

Pada tahap perkembangan selanjutnya, terjadi munculnya berbagai shahifah yang memuat hadis Nabi pada abad ketiga Hijriyah. Shahifah ini menjadi sumber utama untuk kitab-kitab hadis pada abad tersebut, termasuk kitab jawami’, masanid, dan sunan. Meskipun demikian, ada pandangan yang populer di kalangan umat Islam yang menyatakan bahwa penulisan dan pencatatan hadis baru dimulai pada abad ketiga Hijriyah, sementara proses tadwin hadis baru dimulai pada abad kedua Hijriyah. Azami juga mengecam pandangan beberapa ulama terkenal, seperti Ibnu Hajar, yang menyatakan bahwa penulisan hadis baru pertama kali dilakukan oleh al-Zuhri pada akhir abad pertama Hijriyah. Azami menilai bahwa pandangan ini tidak mencerminkan kebenaran, dan ia menyayangkan bahwa sejumlah sahabat dan tabi’in dianggap tidak menulis hadis karena lebih memprioritaskan hafalan.

Dalam hal ini, terdapat suatu keterputusan informasi yang perlu diperhatikan. Nyatanya, para tokoh hadis memiliki pengetahuan dan koleksi hadis yang tidak lain bersumber dari kesaksian orang-orang sebelum mereka, yaitu sahabat, tabi’in, dan tabi’ tabi’in. Meskipun mereka memiliki kemampuan menghafal yang luar biasa dan memiliki koleksi hadis yang besar, namun pengetahuan dan warisan hadis ini sebagian besar diperoleh dari generasi-generasi sebelumnya. Oleh karena itu, penting untuk memahami bahwa keberlanjutan informasi dan ketelitian dalam menyampaikan hadis diteruskan melalui rantai sanad yang terpercaya, yang membentang dari generasi ke generasi.

 

Hadis di Masa Kontemporer

Perkembangan kajian hadis di era kontemporer menandai fase baru dalam pendekatan kajiannya. Pada awal periode ini, kajian hadis terbatas pada lingkup rutin tanpa perkembangan signifikan, mungkin disebabkan oleh dominasi masyarakat Islam yang dipengaruhi oleh budaya Eropa-sentris. Namun, pada abad ke-20, gerakan pembaharuan oleh ulama Timur Tengah seperti Jamaluddin al-Afghani dan Muhammad ‘Abduh, menyerukan umat Islam untuk “kembali kepada al-Quran dan Sunnah” dengan pendekatan modernis, yang menarik perhatian pada kajian hadis.

Setelah itu, kritik terhadap hadis melibatkan para muhaddits, sarjana Muslim, dan orientalis Barat, menunjukkan bahwa kajian pemikiran hadis mendapat respons yang luas dan terus dikaji. Standarisasi keshahihan hadis, seperti yang terdapat dalam Shahih al-Bukhari, mengalami sedikit pembaruan pada era kontemporer. Banyak model kajian ilmu hadis kontemporer berkisar pada kritik hadis, baik dari segi matan maupun sanad, dengan fokus menguji kebenaran dan keutuhan teks hadis serta menilai keabsahan konsep ajaran Islam yang disampaikan oleh periwayat dalam bentuk matan hadis.

 Selain kritik hadis, reorientasi istilah-teknis dalam penyebaran hadis (tahammul al-hadits) juga menjadi aspek penting dalam kajian hadis kontemporer. Metode takhrij hadis menjadi corak yang unik dalam kajian hadis kontemporer, dengan munculnya metode yang mudah dan sederhana untuk memfasilitasi siapa pun yang ingin melakukan takhrij terhadap sebuah hadis. Azami menekankan bahwa dalam memperoleh otentisitas hadis, seseorang harus melakukan kritik hadis, yang mencakup kritik terhadap nash atau dokumen. Perkembangan ilmu pengetahuan, seperti ilmu-ilmu sosial, antropologi, dan filsafat, ikut mempengaruhi kontekstualisasi hadis dengan fokus pada pemahaman seputar kajian matan. Namun, kajian literatur hadis pada masa ini belum sepenuhnya membahas kritik hadis secara menyeluruh, terutama dalam pengembangan kritik matn yang terarah pada fiqh al-hadits (interpretasi hadis).

Dengan pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa kajian hadis pada era modern-kontemporer mencerminkan perubahan paradigma, dengan perhatian pada kajian matan, penyebaran hadis melalui tulisan, dan kritik terhadap otentisitas hadis. Meskipun beberapa pandangan dan pendapat kontroversial muncul, penelitian dan kajian terus dilakukan untuk menjaga integritas ajaran agama Islam.

 

Referensi

Asegaf, Ja’far. “Historiografi Hadis: Analisis embrio, Pemetaan dan Perkembangannya,” Jurnal Ilmu-ilmu Ushuluddin, Vol. 24, No. 1, April 2022.

Azami, M. Mustafa. Hadis Nabawi dan Sejarah Kodifikasinya, terj. Ali Mustafa Yaqub, cet. 3. Jakarta: Pustaka Firdaus, 2006.

Baca juga:
Labels : #Mahasiswa ,#Opini ,
Menunggu informasi...

Posting Komentar