Dalam sejarah perkembangan
penulisannya atau historiografinya, hadis mengalami perubahan dan perkembangan
dinamis dalam setiap masa sejarahanya. Jika kita lihat secara kronologinya,
istilah historigrafi mulai muncul pada abad ke-15 Masehi. Hal ini sejalan
dengan adanya peralihan masa dari abad pertengahan menuju abad modern. Akan
tetapi jika diteliti lebih dalam dengan melihat pola penulisan dan sejarahnya,
historiografi Islam dan hadis telah hadir jauh sebelum abad ke-15 Masehi.
Sejarah historiografi hadis terus mengalami perubahan baik dari masa mutaqaddimin, mu’akhirin dan mu’ashirin. Dalam artikel ini, penulis hanya akan berfokus dalam historiografi hadis di masa mu’ashirin atau kontemporer dengan melihat pemikiran dari satu tokoh, yaitu Musthafa Azami, yang merupakan tokoh masyhur dikalangan para ilmuwan hadis. Penulisan ini berangkat dari beberapa pembahasan. Pertama, mengetahui sejarah penulisan dan perkembangan hadis di masa kontemporer. Kedua, apa saja yang menjadi objek kajian dan ruang lingkup kajian hadis kontemporer. Ketiga, mengetahui kitab-kitab apa saja yang lahir dan yang menjadi corak dimasa ini.
Sejarah Penulisan Hadis dan Kodifikasinya
Musthafa Azami berpendapat bahwa
proses periwayatan hadis telah dilakukan secara tertulis sejak masa sahabat
sampai kepada masa pengumpulan hadis di pertengahan abad ketiga Hijriyah. Hal
ini menjelaskan bahwa literatur hadis yang ada pada periode tersebut merupakan
hasil periwayatan tertulis dari masa sahabat, yang membuktikan bahwa hadis terjamin
keaslian dan kualitasnya tanpa adanya keraguan secara historis. Azami menyoroti
bahwa penjagaan hadis tidak semata dilakukan melalui hafalan, melainkan juga
melibatkan dimensi tulisan. Aktivitas menulis hadis menjadi wujud nyata dari
komitmen untuk melestarikan warisan keilmuan Islam.
Pada tahap perkembangan selanjutnya, terjadi
munculnya berbagai shahifah yang memuat hadis Nabi pada abad ketiga
Hijriyah. Shahifah ini menjadi sumber utama untuk kitab-kitab hadis pada abad tersebut,
termasuk kitab jawami’, masanid, dan sunan. Meskipun
demikian, ada pandangan yang populer di kalangan umat Islam yang menyatakan
bahwa penulisan dan pencatatan hadis baru dimulai pada abad ketiga Hijriyah,
sementara proses tadwin hadis baru dimulai pada abad kedua Hijriyah. Azami juga
mengecam pandangan beberapa ulama terkenal, seperti Ibnu Hajar, yang menyatakan
bahwa penulisan hadis baru pertama kali dilakukan oleh al-Zuhri pada akhir abad
pertama Hijriyah. Azami menilai bahwa pandangan ini tidak mencerminkan
kebenaran, dan ia menyayangkan bahwa sejumlah sahabat dan tabi’in dianggap
tidak menulis hadis karena lebih memprioritaskan hafalan.
Dalam hal ini, terdapat suatu
keterputusan informasi yang perlu diperhatikan. Nyatanya, para tokoh hadis memiliki
pengetahuan dan koleksi hadis yang tidak lain bersumber dari kesaksian
orang-orang sebelum mereka, yaitu sahabat, tabi’in, dan tabi’ tabi’in. Meskipun
mereka memiliki kemampuan menghafal yang luar biasa dan memiliki koleksi hadis
yang besar, namun pengetahuan dan warisan hadis ini sebagian besar diperoleh
dari generasi-generasi sebelumnya. Oleh karena itu, penting untuk memahami
bahwa keberlanjutan informasi dan ketelitian dalam menyampaikan hadis
diteruskan melalui rantai sanad yang terpercaya, yang membentang dari generasi
ke generasi.
Hadis di Masa Kontemporer
Perkembangan kajian hadis di era
kontemporer menandai fase baru dalam pendekatan kajiannya. Pada awal periode
ini, kajian hadis terbatas pada lingkup rutin tanpa perkembangan signifikan,
mungkin disebabkan oleh dominasi masyarakat Islam yang dipengaruhi oleh budaya Eropa-sentris.
Namun, pada abad ke-20, gerakan pembaharuan oleh ulama Timur Tengah seperti
Jamaluddin al-Afghani dan Muhammad ‘Abduh, menyerukan umat Islam untuk “kembali
kepada al-Quran dan Sunnah” dengan pendekatan modernis, yang menarik perhatian
pada kajian hadis.
Setelah itu, kritik terhadap hadis
melibatkan para muhaddits, sarjana Muslim, dan orientalis Barat,
menunjukkan bahwa kajian pemikiran hadis mendapat respons yang luas dan terus
dikaji. Standarisasi keshahihan hadis, seperti yang terdapat dalam Shahih al-Bukhari,
mengalami sedikit pembaruan pada era kontemporer. Banyak model kajian ilmu
hadis kontemporer berkisar pada kritik hadis, baik dari segi matan maupun
sanad, dengan fokus menguji kebenaran dan keutuhan teks hadis serta menilai
keabsahan konsep ajaran Islam yang disampaikan oleh periwayat dalam bentuk
matan hadis.
Selain kritik hadis, reorientasi
istilah-teknis dalam penyebaran hadis (tahammul al-hadits) juga menjadi
aspek penting dalam kajian hadis kontemporer. Metode takhrij hadis
menjadi corak yang unik dalam kajian hadis kontemporer, dengan munculnya metode
yang mudah dan sederhana untuk memfasilitasi siapa pun yang ingin melakukan takhrij
terhadap sebuah hadis. Azami menekankan bahwa dalam memperoleh otentisitas
hadis, seseorang harus melakukan kritik hadis, yang mencakup kritik terhadap
nash atau dokumen. Perkembangan ilmu pengetahuan, seperti ilmu-ilmu sosial,
antropologi, dan filsafat, ikut mempengaruhi kontekstualisasi hadis dengan
fokus pada pemahaman seputar kajian matan. Namun, kajian literatur hadis pada
masa ini belum sepenuhnya membahas kritik hadis secara menyeluruh, terutama
dalam pengembangan kritik matn yang terarah pada fiqh al-hadits
(interpretasi hadis).
Dengan pernyataan diatas dapat
disimpulkan bahwa kajian hadis pada era modern-kontemporer mencerminkan
perubahan paradigma, dengan perhatian pada kajian matan, penyebaran hadis
melalui tulisan, dan kritik terhadap otentisitas hadis. Meskipun beberapa
pandangan dan pendapat kontroversial muncul, penelitian dan kajian terus
dilakukan untuk menjaga integritas ajaran agama Islam.
Referensi
Asegaf, Ja’far. “Historiografi
Hadis: Analisis embrio, Pemetaan dan Perkembangannya,” Jurnal Ilmu-ilmu Ushuluddin,
Vol. 24, No. 1, April 2022.
Azami, M. Mustafa. Hadis Nabawi dan Sejarah Kodifikasinya, terj. Ali Mustafa Yaqub, cet. 3. Jakarta: Pustaka Firdaus, 2006.