1. Tradisi Bulan Syawal
Saling silaturrahim dan bermaaf-maafan adalah
tradisi yang ada di hari raya Idul Fitri di Indonesia. Di samping itu, para
ulama biasanya mempunyai hari khusus untuk silaturrahim di hari raya Idul
Fitri. Habib Abdullah Bagir bin Ahmad al-Aththas misalnya mengadakan pembacaan maulid
al-Azab sekaligus silaturrahim setelah Ashar dilanjutkan dengan shalat Maghrib
berjamaah di masjid al-Raudlah Jalan Agus Salim, Kota Pekalongan. Setelah shalat
Maghrib dan dosa setelah shalat selesai, acara kemudian dilanjutkan mushafahah
dengan Habib Bagir, sebagaimana terlaksana pada hari Senin ini (31/03).
Acara maulid di hari pertama bulan Syawal
dimulai dengan pembacaan kitab maulid al-‘Azab. Kitab maulid ini ditulis oleh
Syaikh Muhammad al-‘Azab. Maulid ini berbentuk qashidah yang terdiri dari
beberapa bagian sebagaimana maulid lain, yaitu silsilah Nabi, kelahiran dan peristiwa
yang mengitari kelahiran beliau, kehidupan beliau, sifat khalqi dan khuluqi
beliau serta doa di akhir maulid.
2. Membaca Maulid adalah Membaca Sirah Nabi
Setelah selesai pembacaan maulid dan qashidah ya
mu’id al-a’yad, Habib Bagir mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak
yang telah membantu dan menyukseskan acara di masjid al-Raudlah selama setahun ini.
Sebagaimana diketahui, masjid ini menyelenggarakan pembacaan maulid al-Diba’i, pembacaan
Shahih al-Bukhari tiap bulan Rajab, maulid di bulan Rabiulawal dan lain
sebagainya. Kemudian Habib Bagir berpesan agar anak-anak diajak mengikuti
tradisi pembacaan maulid, karena mereka adalah penerus tradisi tersebut. Lebih lanjut,
Habib Bagir mengatakan bahwa membaca maulid adalah membaca sirah Nabi yang
berarti membaca sejarah Nabi.
Jika sirah berisi tentang kehidupan Nabi dari
awal sampai akhir dengan detail, bahkan dengan riwayat dan sanadnya, maka maulid
adalah versi ringkas dari sirah. Jika sirah dikhususkan untuk kajian ilmiah dan
serius, maka maulid dikhususkan untuk masyarakat umum dan dengan bahasa yang
mudah difahami serta diresapi. Di samping itu, maulid berisi tentang tiga
bagian utama. Pertama pembacaan sebelum mahallul qiyam yang
berisi tentang silsilah, keluarga Nabi dan detik-detik kelahiran beliau. Kedua
mahallul qiyam yang berisi tentang pembacaan qashidah dan syair pujian
kepada Nabi. Ketiga setelah mahallul qiyam yang berisi kehidupan
Nabi setelah lahir hingga syama’il (sifat khalqi dan khuluqi)
serta doa.
Jenis maulid sendiri ada yang berbentuk natsar
(prosa) seperti maulid al-Barzanji, al-Diba’i, Simthud Durar dan lainnya dengan
diselingi beberapa syair di dalamnya, ada juga yang berbentuk qashidah (puisi)
seperti maulid al-‘Azab, juga seperti qashidah Burdah al-Bushiri. Pembacaan yang
terkait dengan qashidah atau syair biasanya diiringi dengan rebana dan lagu tertentu,
yang menambah khusyuk pembacaan maulid itu sendiri.
Dengan demikian, maka sangat tepat pernyataan Habib Bagir bahwa membaca maulid adalah membaca sirah atau sejarah Nabi. Menurut Habib Bagir, pembacaan maulid ini merupakan tradisi yang sesuai dengan nilai-nilai Islam. Beberapa orang mengatakan bahwa maulid isi dan susunannya berlebihan, tidak seperti sirah Nabi. Hal ini dikarenakan mereka melihat bahwa membaca sejarah Nabi harus kaku dan akademis seperti sirah Nabi, yang memang khusus untuk para ulama dan akademisi. Padahal membaca sejarah Nabi adalah hak semua orang, apalagi jika dikemas dengan bahasa dan syair yang indah, yang mengajak semua lapisan masyarakat untuk membacanya. Toh maulid tidak ada yang berisi tentang hal-hal yang dilarang sebagaimana syair di masa jahiliah yang isinya tentang cinta, rindu dan hal-hal yang diharamkan syariat.
3. Membaca Maulid, Sirah dan Hadis: Membaca Shalawat
Maulid, sirah dan hadis mempunyai pola yang
sama, yaitu sama-sama membaca shalawat. Orang yang membaca maulid otomatis kan
melantunkan shalawat kepada Nabi, para keluarga dan juga sahabatnya. Orang yang
membaca sirah dan hadis juga pasti akan membaca shalawat, khususnya ketika membaca
nama Muhammad, pasti akan diiringi dengan shalla Allahu ‘alaihi wa sallam. Sebaliknya,
orang yang membaca shalawat juga otomatis akan membaca maulid, sirah dan hadis,
walaupun hanya sebagian.
Pasalnya, orang membaca shalawat, apalagi
ratusan atau ribuan kali setiap harinya, pasti akan mengingat sosok Nabi dalam
bacaannya. Entah mereka mengingat Nabi hanya dengan namanya, dengan akhlaknya,
dengan sebagian yang dapat mereka ingat tentang Nabi dan lain sebagainya. Ini juga
dianggap sebagai pembacaan terhadap sejarah Nabi. Oleh karena itu, membaca sejarah
Nabi bisa dilakukan dengan banyak cara: maulid, sirah, hadis, dan juga
shalawat.
Masing-masing cara dapat dilakukan oleh setiap orang dengan kecenderungannya masing-masing. Bagi mereka yang dirasa mudah membaca shalawat, maka shalawat adalah salah satu cara menghadirkan Nabi dalam dirinya. Begitu juga bagi yang mudah membaca sirah, itulah caranya mengingat Nabi dalam kehidupannya. Begitu juga dengan maulid dan hadis. Cara-cara ini tidak boleh dikuasai, didominasi ataupun dimonopoli oleh cara yang lain. Ulama dan ahli sirah Nabi tidak boleh memaksakan masyarakat umum yang hanya bisa baca shalawat untuk mengikuti caranya agar mau membaca sirah Nabi. Pun juga sebaliknya.
Oleh karena itu, di beberapa tempat di Indonesia, muncul tradisi pujian setelah adzan dikumandangkan. Pujian ini bisa berupa doa-doa, aqa’id seket, keluarga Nabi dan juga shalawat Nabi dengan berbagai jenis dan isi, baik dengan bahasa lokal maupun bahasa Arab. Hal ini merupakan kearifan lokal yang ditradisikan para ulama terdahulu agar masyarakat dapat mengingat dan meniru Nabi dengan sudut pandang dan cara yang mudah dan seusai dengan kemampuan masyarakat, bukan menurut kemampuan para ulama itu sendiri.